Aku sebuah Peran

Aku menulisnya kala ku tak sadar dia datang. Menyapa sepiku, mengusik tidurku sampai aku terpejam kembali, lagi dan lagi. Hingga aku tersadar dari mimpi yang menghanyutkanku dalam tidur terbawa arus kegarangan.

Semua kembali seperti kemarin. Matahari tetap sama, awan yang menggantung pun masih itu juga. Tak ada yang verubah di mataku. Tapi, tunggu sejenak! Ada kicauan burung. Tak biasanya. Dan siapakah pemilik suara merdu di balik tembok kamarku? Merdu sekali hingga suara burung perkicau itu seolah – olah tak terdengar lagi karenanya. Bergegas langkahku mencarinya. Tapi tak ada lagi suara. Pemiliknya pun tak nampak.

Kicauan itu kembali lagi, tanpanya. Burung pekicau itu nyata. Ia bermain dengan bunga – bunga di depan teras.

Cukup sudah. Cukup sudah. Aku ingin kembali lagi. Kini peraku berganti. Mengantarkan madu pada sari, agar tumbuh bunga baru.

Cukup sudah. Cukup sudah. Aku berkicau menghibur pagi.

Belum ada Komentar untuk "Aku sebuah Peran"

Posting Komentar

Apa komentar Anda?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel