Awal sebuah puisi

Tanpa sadar ada kata yang terucap, lalu menjadi kalimat hingga terpatri menjadi bait demi bait dalam bahasa puisi. Makna sering kali jauh dari arti dan bentuk. Seperti itulah puisi, samar lalu terbiasa jadi gelap. Hingga ada yang mampu menemukan titik terang.

Mengenai puisi saya, maaf jika kurang bagus. Karena saya bukan seorang yang mahir, saya pun tak pernah menekuninya.

Saya masih ingat saat pertama kali menulis puisi (karangan sendiri). Saat itu senja, saya bertiga kawanku menikmatinya sambil membahas apa yang akan kita lakukan esok setelah hari yang melelahkan. Lalu datanglah tiga gadis berjalan kearah, aku pun pura-pura tak melihatnya karena terselimuti perasaan malu saat itu. Yang tengah memakai jilbab, sedangkan kedua kawannya tidak. Saat mereka bertiga telah melewati saya dan kedua kawanku Taufik dan Heri, saya langsung merogoh sakuku mengambil polpen dan menyuruh Heri menyobek selembar kertas untukku. Lalu kata - kata bait pertama yang ku anggap sebagai judul ku gores bertuliskan Di Bawah Senja.

Di Bawah Senja

Dikau bertiga kawanmu
Berjalan ke arahku
Tersibak cahaya senja di jilbabmu
Aku memandangmu sampai pengujung mataku
=//% 2+.*2
. 3.55 //

Belum ada Komentar untuk "Awal sebuah puisi"

Posting Komentar

Apa komentar Anda?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel