Dewa, Cinta dan Sufi


Pergulatan panjang anak-anak muda dibawah komando Ahmad Dhani, telah menjadi barisan dengan sayap-sayapnya yang mengepak. Barisan Laskar Cinta, bagai "Ababil" yang menyentak kesadaran kaum muda di negeri ini, yang begitu lama dikukung oleh kekuatan, kekuasaan, diktatorisme yang memberangus cinta dan kebebasan.
Dewa, lalu menjadi ikon yang begitu kokoh, setelah tahun demi tahun dalam pencarian "Sarang Cinta" dan "Perdamaian". Lalu sarang-sarang lain yang dihuni oleh mereka yang terganggu kedatangan barisan Laskar Cinta ini, tiba-tiba menggeliat, bah... bedebah. Lambang agung Dewa harus dikoyak, karena lambang itu tak layak untuk dijadikan symbol Laskar Cinta, apalagi Laskar ini tidak mencerminkan keislaman, yang dianggap milik mereka, sesuatu yang diagungkan mereka.

Sungguh, sebagaimana sebuah revolusi yang menggugat kemapanan, mengoyak demagog dan berhala, memberangus egoisme atas nama Tuhan dan agama, tiba-tiba, adalah Dewa yang menggelorakan sebuah konser revolusioner itu. Pertama-tama begitu terganggu hadirnya Dewa, ketika sebuah konser diselenggarakan sebuah TV swasta, Minggu (10/4) dengan tidak sengaja menggelar karpet berlambang kaligrafi, yang konon, mengandung nama Allah. Tiba-tiba seorang Ustadz Wahfiyudin melayangkan protes keras, karena Dewa dianggap menginjak-injak kaligrafi "Allah", lalu beruntun menjadi gelombang protes, dengan teriakan panjang, FPI (Front Pembela Islam) yang dikomandoi Habib Riziq menggugatnya.

Berantai pula gugatannya, ketika simbol Dewa yang dikira Kaligrafi bertulis Allah itu jadi lebel kasetnya. Rupanya,tudingan bahwa Kaligrafi itu, pun masih kontroversi. Jangan-jangan guratan-guratan daun di pinggir jalan kalau di amat-amati bisa dikait-kaitkan dengan lafadz Allah, bentuk kaca mobil, juga bisa dikaitkan dengan model kaligrafi, atau apa saja.
Susul menyusul teriakan di pinggir jalan bermunculan, memanfaatkan momentum ini, yang mulai mempersoalkan teologi Dewa sampai tudingan sebagai antek asing di negeri ini. Entah, apa tujuannya, dan siapa di belakang mereka.

Tentu kisah kontroversi ini melibatkan lembaga peradilan, ramai-ramai melaporkan Dewa.
Komandan Dewa, Dhani Ahmad pun sudah meminta maaf jika memang dianggap salah oleh mereka yang menganggapnya berdosa. "Saya, Dhani ahmad, Once, Andra, Yuke, Tyo, atas nama Dewa meminta maaf atas kecerobohan yang tidak kami sengaja, yang mungkin menyakitkan sebagian umat Islam."

Tulisan ini lebih menyoroti perjalanan spiritual Dewa yang begitu unik. Semua itu berporos pada Dhani Ahmad, sang komandan. Dhani begitu tergila-gila dengan pesan-pesan agung para Auliya', para Sufi besar, seperti Ibnu Araby, Al-Ghazaly, Jalaluddin Ruumy, Ibnul Faridl, dan bahkan Al-Hallaj.

Untuk menabung genderang dalam konser jiwanya, Dhani mulai mendekati para Ulama Sufi, para Kyai, dan para Mursyid Thariqat Sufi. Tokoh-tokoh Sufi itu turut membimbing Dhani dalam kontemplasi ruhaninya, sampai akhirnya terekspresikan dalam seluruh syair-syair cintanya yang begitu dahsyat, dan teraksentuasikan dalam lirik-lirik lagu yang melodius.
Dewa, diam-diam, menjadi symbol baru bagi sebuah musik pop modern untuk anak-anak muda, dengan dua kepas sayapnya yang membubung ke langit-langit jiwa kaum muda. Sayap satunya mengepakkan pesan-pesan Cinta kaum Sufi yang agung, satu sayap lainnya mengepakkan bahasa-bahasa cinta dalam arti paling manusiawi.

Ini mengingatkan standar ganda dalam kisah Laila dan Majnun, atau pun Syair-syair Sufi Ibnul Faridl yang terkenal dengan sebutan Si Pangeran Cinta. Gambaran nuansa Cinta dalam Laila Majnun maupun Ibnul Faridl, sulit dibedakan apakah cinta yang dalam terhadap sesama manusia, ataukah sesungguhnya ingin menggambarkan Cinta Ilahi yang hakiki.
Dua mosaik yang berhadapan itu, tidak terlalu penting untuk disoalkan. Siapa pun - secara individual - berhak mengapresiasikan bahasa cinta itu untuk menuangkan mosaik cinta terhadap sesama manusia atau terhadap Robbnya.

Faktanya para Sufi dalam kitab-kitabnya sering melukiskan Drama Cintanya dengan Allah, dengan mengutip bahasa Cinta Umru'ul Qois dalam Laila Majnun.
Coba simak syair Dewa pada Atas Nama Cinta

KATAMU KAU CINTA AKU
DEMI TUHAN KAU BERSUMPAH
KATAMU KAU AKAN SETIA
DEMI TUHAN KAU BERJANJI

BEGITU MUDAH MULUTMU BERKATA
ATAS NAMAKAN TUHAN
DEMI KEPENTINGANMU

REFF

ATAS NAMA CINTA SAJA
JANGAN BAWA...NAMA TUHAN

APAPUN CARA KAU TEMPUH
UNTUK DAPATKAN YANG KAU MAU
MESKI KAU HARUS JUAL MURAH
AYAT-AYAT SUCI TUHAN.


Lirik ini sangat menusuk kemunafikan dan kefasikan gerakan-gerakan yang sungguh mengatasnamakan Tuhan, atas nama Allah, atas nama Islam, tetapi diam-diam menyimpan kebusukan yang - sekedar jadi sampah dan limbah pun - tak layak dihadapkan di pentas sejarah peradaban Islam.
Dewa mengingatkan pula, bagaimana orang-orang yang memadu kasih terhadap sesama manusia, seringkali berselingkuh, bahkan atas Nama sumpah Demi Tuhan, untuk menutupi cacat-cacat cintanya, dan kesetiaannya. Sungguh mempermainkan cinta, atas nama apa saja, sangat ternoda.

Dewa, dengan Laskar Cintanya, lalu seperti ababil yang menyambar-nyambar, melemparkan kerikil-kerikil, menghantam mereka yang yang dikuasai oleh Nafsu Abrahah modern. Dewa sembunyikan senjatanya yang ampuh, dalam bungkus lagu dan gelora musik, siapa tahu, tiba-tiba kelak kemunafikan, kezaliman, kefasikan terkoyak bagai daun-daun yang terkoyak oleh ulat-ulat.
Lalu Dewa mengegelorakan kembali, dalam sebuah munajat yang sunyi dan indah:

Hidup ini Indah

Matahari menyinari seisi bumi
Seperti Engkau
Menyinari…Roh didalam Jasadku ini
Selamanya…seperti hujan
Kau basahi jiwa yang kering

Reff:
Hidup ini indah..Bila ku selalu
Ada di sisimu setiap waktu…
Hingga aku hembuskan nafas
Yang terakhir…dan Kita pun bertemu…

Kau bagai udara yang kuhirup
Di setiap masa, …Engkaulah darah yang mengaliri dalam nadiku…
Maafkanlah selalu…salahku
Karena Kau memang Pemaaf
Dan aku hanya manusia
Hanya Kau dan aku…dalam Awal dan Akhir.


Syair ini mengingatkan doa dan munajat kita semua, "Allaahumma Nawwir Quluubanaa binuuri HidayatiKa Kamaa Nawwartal Ardlo bi-Nuuri Syamsika Abadan..Abadan..Abadan…Birohmatika Yaa Arhamar-Rohimiin" (Ya Allah, Siramilah Cahaya pada hati kami, sebagaimana Engkau sinari bumi dengan cahaya matahariMu, selamanya…selamanya…selamanya… Berkat Cinta kasihMu wahai Dzat Yang Maha Mencintai…)

Syair Dewa di atas, bahkan melambangkan syukur dan doa, dua hal yang sudah mulai langka. Kelangkaan bersyukur kepada Allah, memang telah digariskan Al-Qur'an, "Sedikit sekali kalian bersyukur," dan di ayat lain, "sangat minoritas jumlah manusia yang bersyukur."

Presiasi musikal Dakwah, tidak bisa dilambangkan dengan musik ala Timur Tengah, atau pun ornament Padang Sahara, dengan style jubah ala Arabia.
Sunan Kalijogo sukses besar tiada tara, ketika mengembangkan Dakwah lewat wayang kulit dan musik tradisional Jawa. Dan dalam sejarah dunia, prestasi Seni Sunan Kalijogo itu termasuk dari sekian Keajaiban Dunia yang belum tertandingi oleh dakwah ala seniman mana pun.

Kalau saja akulturasi, apresiasi budaya seni tidak dilakukan oleh para Auliya ketika itu, kita tidak bisa bayangkan apakah Islam sudah menyebar dengan jumlah terbesar di dunia seperti kita saksikan saat ini. Ummat Islam Indonesia mesti berterimakasih kepada Sunan Bonang, Sunan Kalijogo dan para Auliya Sembilan yang begitu arif, dan menampilkan Islam dengan wajah yang tidak sangar, tidak garang dan penuh cinta dan kasih sayang.

CINTA KAUM SUFI



Di dunia ini, peradaban Islam mencatat, tidak ada kedalaman apresiasi Cinta yang melebihi Cinta Rasul kepada Allah. Bahasa ruh cinta itu kemudian diwarisi oleh para Sufi sedemikian berpengaruh seantero dunia. Mungkin anda beriman kepada Allah, dan anda juga mengaku beragama Islam, tetapi apakah anda sudah mencintai Allah? Pernahkah ada getaran yang membuat dada anda gemetar ketika nama Allah disebut? Sebagaimana getaran jiwa sang pecinta kepada kekasih yang paling dicintainya? Pernahkah anda rindu bertalu-talu, sampai kerinduan itu menjadi nyanyian hati yang membubung sampai ke Arasy-Nya?
Dewa, sekadar mengapresiasikan semua itu dalam nada-nada indah. Keindahan dan kegembiraan mencintaiNya, kadang terekpressikan dalam gerak, apa pun gerak itu, tapi gerak tersebut telah menggerakkan kepak sayap para penari di zaman Jalaluddin Rumi, dan jingkrak-jingkrak Dewa, adalah kegembiraan dan keceriaan jujur dari ekstase jiwanya dalam menikmati munajat Ilahi di alam musikalnya.
Sampai pada lirik yang menyatukan mereka dengan yang Dicinta:

SATU

AKU INI..ADALAH DIRIMU
CINTA INI…ADALAH CINTAMU
AKU INI…ADALAH DIRIMU
JIWA INI…ADALAH JIWAMU

RINDU INI ADALAH RINDUMU
DARAH INI ADALAH DARAHMU

REFF:
TAK ADA YANG LAIN SELAIN DIRIMU
YANG SELALU KU PUJA …OUO..
KU SEBUT NAMAMU
DISETIAP HEMBUSAN NAFASKU
KUSEBUT NAMAMU
KUSEBUT NAMAMU

DENGAN TANGANMU…AKU MENYENTUH
DENGAN KAKIMU.. AKU BERJALAN
DENGAN MATAMU..KUMEMANDANG
DENGAN TELINGAMU KUMENDENGAR
DENGAN LIDAHMU…AKU BICARA
DENGAN HATIMU…AKU MERASA


Dalam petikan hadits Qudsy, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya, Al-Hakim, dan Ibnu Mardaweih, Abu Nu'aim dan Ibnu Assakir, disebutkan, "Barang siapa menyakiti salah satu waliKu berarti telah memaklumkan perang kepadaKu. Dan Aku tidak merasa ragu-ragu dalam melakukan sesuatu pun, sebagaimana keraguanKu menyabut nyawa hambaKu yang beriman karena dia membenci kematian dan Aku tak suka menyakitinya, namun kematian itu harus terjadi. Tak ada cara taqarrub yang paling Kucintai bagi hambaKu dibanding melaksanakan kewajiban yang kuperintahkan kepadanya, dan senantiasa mendekatiKu dengan ibadah-ibadah Sunnah sampai Aku mencintainya.

Dan siapa yang Kucintai, Akulah menjadi telinga (untuk mendengar), menjadi Mata (untuk melihat), menjadi Tangan dan Tiang penopang baginya…"
Amboi, Dhani Dewa mengapresiasikan dengan bahasa popular yang anggun, dalam rangka meneladani jejak Rasul. Kenapa syair itu dimunculkan? Jika rasulullah SAW mengingatkan kita seperti itu, kelak di zaman ummatnya ini, memang akan ada segerombolan ummat yang memiliki kepuasan-kepuasan nafsu dengan cara membenci para WaliNya. Na'udzubillah min-dzaalik.

Sekali lagi, Dewa juga mengingatkan kita semua agar kecintaan kepada Allah bisa dibangun sampai kedalaman cinta yang hakiki. Bukan cinta dalam orasi, bukan cinta dalam label dan kepentingan pribadi. Bukan cinta yang diselubungi oleh awan kemunafikan yang mengerikan.
Tapi Dewa malah dituduh pantheisme, dituding wahdatul wujud, dituduh menyamakan Tuhan dengan manusia. Tudingan yang mirip terhadap Ibnu Araby, Al-Hallaj maupun Suhrawardy.

Padahal memahami bahasa Cinta dalam Musyahadah jiwa para Sufi, tidak bisa dengan melihat dengan mata kepala, tapi lihatlah dengan matahati.
Dalam dunia Sufi tidak ada Wahdatul Wujud, yang ada adalah Wahdatus Syuhud, yang bersatu bukan fisik dan bukan jasad tetapi yang bersatu adalah Kesaksian Jiwa, Itulah Musyahadah. Dan dengan Musyahadah itu kita semua baru memahami apa yang disebut dengan Tangan, Lisan, Telinga, sebagaimana dalam firmanNya itu. Tanpa Musyahadah anda akan terjebak oleh formalisme buta, sebagaimana Iblis tergelincir oleh formalisme ubudiyah, hanya karena memandang sosok formal Adam, lalu dia arogan, berakhir dengan penentangan, lalu jadi Iblis.

Iblis tidak melihat hakikat Adam, ia hanya terjebak oleh egoisme sentries dibalik bahan baku Adam dari tanah, dan usia Adam yang lebih muda dibanding dirinya. Na'udzubillah minasyyaithoonirrojim.
Lihatlah syair-syair Dewa dengan kacamata hati, desah jiwa, nafas Ruh, maka segalanya akan terbuka. Mungkin Dewa juga sedang belajar menghayatinya, sebagaimana para penempuh Jalan Ilahi yang lainnya.

3 Komentar untuk "Dewa, Cinta dan Sufi"

  1. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
    Bismillah Khairil Asma
    Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Aali Muhammad

    Kami mengundang saudara-saudara semua untuk berkunjung
    ke website kami :

    http://www.hasanhusein.blogspot.com

    Wassalam

    BalasHapus
  2. aduh... kamu memaparkan kisah Dhani dengan bahasa yang indah^^

    ga cuma artikel ini aja sih, tapi tiap artikelmu memiliki bahasa yang sastra dan puisi yang indah. Jadi pingin punya kemampuan menyusun tata bahasa seindah itu^^

    BalasHapus

Apa komentar Anda?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel